Salat merupakan ibadah wajib yang harus dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:
“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.” (HR. Bukhari)
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan menjadi dasar agar seorang muslim mempelajari tata cara salat sesuai sunah Nabi ﷺ.
Artikel ini menjelaskan tata cara salat dari awal sampai akhir, dilengkapi bacaan bahasa Arab, latin, arti, dan dalil yang sahih.
Persiapan Sebelum Melaksanakan Salat
Sebelum melaksanakan salat, seorang muslim harus memperhatikan beberapa hal berikut:
Salat telah masuk waktunya.
Suci dari hadas kecil dan hadas besar.
Badan, pakaian, dan tempat salat bersih dari najis.
Menutup aurat.
Menghadap kiblat.
Mengetahui salat yang akan dikerjakan.
Allah menjelaskan tata cara bersuci sebelum salat dalam Surah Al-Ma’idah ayat 6. Salat juga merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan bagi orang-orang beriman.
Perintah menghadap Masjidilharam sebagai kiblat disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 144.
Niat Salat
Niat dilakukan di dalam hati. Tidak terdapat riwayat sahih yang menetapkan bahwa Rasulullah ﷺ melafalkan niat salat dengan kalimat tertentu sebelum takbiratul ihram.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap amal tergantung pada niatnya dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya. (HR. Bukhari no. 1)
Karena itu, cukup menghadirkan dalam hati salat yang akan dikerjakan. Contohnya:
Salat Subuh: berniat melaksanakan salat fardu Subuh dua rakaat karena Allah.
Salat Zuhur: berniat melaksanakan salat fardu Zuhur empat rakaat karena Allah.
Salat Asar: berniat melaksanakan salat fardu Asar empat rakaat karena Allah.
Salat Magrib: berniat melaksanakan salat fardu Magrib tiga rakaat karena Allah.
Salat Isya: berniat melaksanakan salat fardu Isya empat rakaat karena Allah.
Tidak wajib mengucapkan niat tersebut dalam bahasa Arab.
Tata Cara Salat Rakaat Pertama
1. Berdiri Menghadap Kiblat
Berdirilah dengan tegak menghadap kiblat bagi orang yang mampu. Pandangan diarahkan ke tempat sujud agar lebih mudah menjaga kekhusyukan.
2. Takbiratul Ihram
Angkat kedua tangan sejajar dengan bahu atau telinga, kemudian ucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar.
Artinya
“Allah Mahabesar.”
Setelah takbir, letakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Rasulullah ﷺ diriwayatkan mengangkat kedua tangan ketika memulai salat dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.
Takbiratul ihram menandai dimulainya salat. Setelah mengucapkannya, seseorang tidak boleh berbicara, makan, minum, atau melakukan kegiatan di luar salat.
3. Membaca Doa Iftitah
Doa iftitah dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah. Hukumnya sunah. Salah satu doa iftitah yang diriwayatkan secara sahih adalah:
Allaahumma baa‘id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa‘adta bainal-masyriqi wal-maghrib. Allaahumma naqqinii min khathaayaaya kamaa yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas. Allaahummaghsil khathaayaaya bil-maa’i wats-tsalji wal-barad.
Artinya
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, basuhlah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.”
Doa tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 744.
4. Membaca Taawuz
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
A‘uudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim.
Artinya
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Kemudian membaca basmalah:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim.
Artinya
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
5. Membaca Surah Al-Fatihah
Membaca Al-Fatihah merupakan bagian yang sangat penting dalam salat. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak sah salat seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim.
Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.
Ar-rahmaanir-rahiim.
Maaliki yaumid-diin.
Iyyaaka na‘budu wa iyyaaka nasta‘iin.
Ihdinash-shiraathal-mustaqiim.
Shiraathal-ladziina an‘amta ‘alaihim, ghairil-maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhaalliin.
Artinya
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Pemilik hari pembalasan.
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
Teks dan terjemahan Al-Fatihah dapat dilihat dalam Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama.
Setelah membaca Al-Fatihah, ucapkan:
آمِينَ
Aamiin.
Artinya
“Ya Allah, kabulkanlah.”
Rasulullah ﷺ membaca amin dan memerintahkan makmum mengucapkannya setelah imam membaca amin.
6. Membaca Surah atau Ayat Al-Qur’an
Pada rakaat pertama dan kedua, setelah Al-Fatihah disunahkan membaca surah atau beberapa ayat Al-Qur’an. Pada rakaat ketiga dan keempat, seseorang dapat mencukupkan dengan membaca Al-Fatihah.
Sebagai contoh, membaca Surah Al-Ikhlas:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
اللَّهُ الصَّمَدُ
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Qul huwallaahu ahad.
Allaahush-shamad.
Lam yalid wa lam yuulad.
Wa lam yakul lahu kufuwan ahad.
Artinya
“Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.
Allah tempat meminta segala sesuatu.
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
7. Rukuk
Setelah selesai membaca surah, angkat kedua tangan dan ucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar.
Kemudian rukuk dengan meletakkan kedua telapak tangan pada lutut. Punggung dan kepala diusahakan sejajar. Lakukan dengan tenang dan tidak terburu-buru.
Bacaan rukuk:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ
Subhaana rabbiyal-‘azhiim.
Artinya
“Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung.”
Bacaan tersebut diriwayatkan dari Hudzaifah ketika beliau salat bersama Rasulullah ﷺ.
Boleh pula membaca doa berikut:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Subhaanaka Allaahumma rabbanaa wa bihamdika, Allaahummaghfir lii.
Artinya
“Mahasuci Engkau, ya Allah, Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.”
Doa ini dibaca Rasulullah ﷺ ketika rukuk dan sujud.
8. Iktidal
Bangkitlah dari rukuk hingga berdiri tegak sambil mengucapkan:
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
Sami‘allaahu liman hamidah.
Artinya
“Allah mendengar orang yang memuji-Nya.”
Setelah berdiri tegak, membaca:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
Rabbanaa wa lakal-hamdu, hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.
Artinya
“Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan.”
Rasulullah ﷺ menjelaskan bacaan ketika bangkit dari rukuk. Bacaan pujian yang panjang tersebut juga mendapat pujian karena para malaikat berlomba mencatatnya.
Pastikan tubuh telah berdiri tegak sebelum turun untuk sujud. Ketenangan dalam rukuk, iktidal, sujud, dan duduk merupakan bagian penting dalam salat.
9. Sujud Pertama
Turunlah untuk sujud sambil mengucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar.
Sujud dilakukan dengan bertumpu pada tujuh anggota badan, yaitu:
Dahi dan hidung.
Kedua telapak tangan.
Kedua lutut.
Ujung jari-jari kedua kaki.
Rasulullah ﷺ memerintahkan sujud menggunakan tujuh anggota badan tersebut.
Bacaan ketika sujud:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
Subhaana rabbiyal-a‘laa.
Artinya
“Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi.”
Bacaan ini diriwayatkan secara sahih dari salat Rasulullah ﷺ.
10. Duduk di Antara Dua Sujud
Bangkit dari sujud sambil mengucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar.
Duduklah dengan tenang. Salah satu bacaan sahih yang dapat dibaca adalah:
رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي
Rabbighfir lii, rabbighfir lii.
Artinya
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku. Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”
Bacaan tersebut diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan dinilai sahih.
11. Sujud Kedua
Setelah duduk dengan tenang, lakukan sujud kedua sambil mengucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar.
Baca kembali:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
Subhaana rabbiyal-a‘laa.
Artinya
“Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi.”
Sampai tahap ini, satu rakaat telah selesai.
Tata Cara Rakaat Kedua
Bangkit dari sujud kedua sambil mengucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar.
Pada rakaat kedua, urutannya adalah:
Berdiri tegak.
Membaca Al-Fatihah.
Membaca surah atau ayat Al-Qur’an.
Rukuk.
Iktidal.
Sujud pertama.
Duduk di antara dua sujud.
Sujud kedua.
Duduk tasyahud.
Doa iftitah tidak perlu dibaca kembali karena hanya dibaca pada awal salat.
Bacaan Tasyahud
Setelah sujud kedua pada rakaat kedua, duduklah untuk membaca tasyahud.
At-tahiyyaatu lillaahi wash-shalawaatu wath-thayyibaat. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
Artinya
“Segala penghormatan, doa, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Bacaan tasyahud tersebut diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabat.
Tasyahud Awal
Pada salat Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, duduk setelah rakaat kedua disebut tasyahud awal.
Setelah membaca tasyahud awal, bangkitlah menuju rakaat berikutnya sambil mengucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu akbar.
Rakaat Ketiga dan Keempat
Pada rakaat ketiga dan keempat, urutan gerakannya sama. Bacaan berdiri dapat dicukupkan dengan membaca Surah Al-Fatihah.
Ketentuan jumlah rakaat salat wajib adalah:
Subuh: dua rakaat.
Zuhur: empat rakaat.
Asar: empat rakaat.
Magrib: tiga rakaat.
Isya: empat rakaat.
Setelah menyelesaikan rakaat terakhir, duduklah untuk membaca tasyahud akhir.
Tasyahud Akhir dan Selawat Ibrahimiyah
Pada tasyahud akhir, bacalah tasyahud sebagaimana bacaan sebelumnya. Setelah itu, lanjutkan dengan Selawat Ibrahimiyah.
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa aali Ibraahiim, innaka hamiidum majiid. Allaahumma baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa aali Ibraahiim, innaka hamiidum majiid.
Artinya
“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.
Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.”
Selawat tersebut diajarkan Rasulullah ﷺ ketika para sahabat bertanya bagaimana cara berselawat kepada beliau.
Doa Sebelum Salam
Setelah membaca tasyahud dan selawat, disunahkan memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara.
Allaahumma innii a‘uudzu bika min ‘adzaabi Jahannam, wa min ‘adzaabil-qabr, wa min fitnatil-mahyaa wal-mamaat, wa min syarri fitnatil-Masiihid-Dajjaal.
Artinya
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Al-Masih Dajjal.”
Rasulullah ﷺ memerintahkan membaca doa perlindungan tersebut setelah menyelesaikan tasyahud akhir.
Setelah itu, seseorang boleh berdoa memohon kebaikan dunia dan akhirat.
Mengakhiri Salat dengan Salam
Salat diakhiri dengan menoleh ke kanan sambil mengucapkan:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaah.
Artinya
“Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian.”
Kemudian menoleh ke kiri dan membaca bacaan yang sama:
Bacaan Arab
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaah.
Artinya
“Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian.”
Para sahabat melihat Rasulullah ﷺ melakukan salam ke kanan dan ke kiri hingga terlihat bagian putih pipi beliau.
Dengan salam tersebut, rangkaian salat telah selesai.
Pentingnya Tumakninah dalam Salat
Tumakninah berarti melakukan setiap gerakan dengan tenang sehingga anggota tubuh berada pada posisinya sebelum berpindah ke gerakan berikutnya.
Jangan melakukan salat dengan tergesa-gesa. Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan seseorang mengulang salatnya karena ia tidak melakukan rukuk, iktidal, sujud, dan duduk dengan tenang.
Tumakninah harus dijaga ketika:
Rukuk.
Bangkit dan berdiri setelah rukuk.
Sujud.
Duduk di antara dua sujud.
Duduk tasyahud.
Setiap perpindahan gerakan.
Ringkasan Urutan Salat
Secara ringkas, urutan salat adalah:
Berdiri menghadap kiblat.
Berniat di dalam hati.
Takbiratul ihram.
Membaca doa iftitah.
Membaca taawuz dan basmalah.
Membaca Al-Fatihah.
Membaca surah Al-Qur’an.
Rukuk.
Iktidal.
Sujud pertama.
Duduk di antara dua sujud.
Sujud kedua.
Berdiri untuk rakaat berikutnya.
Membaca tasyahud awal setelah rakaat kedua untuk salat tiga atau empat rakaat.
Melanjutkan rakaat berikutnya.
Membaca tasyahud akhir.
Membaca Selawat Ibrahimiyah.
Membaca doa perlindungan.
Salam ke kanan dan ke kiri.
Penutup
Salat harus dilaksanakan dengan ikhlas, tenang, dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Bacaan latin dalam artikel ini hanya membantu pembaca yang belum lancar membaca huruf Arab. Pengucapan yang benar sebaiknya tetap dipelajari langsung dari guru Al-Qur’an, ustaz, atau pembimbing yang memahami makhraj dan tajwid.
Terdapat beberapa perbedaan kecil di antara mazhab mengenai posisi tangan, cara duduk, pengerasan bacaan, dan beberapa bacaan sunah. Perbedaan tersebut hendaknya tidak menjadi penyebab perselisihan selama memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hal terpenting adalah menjaga rukun salat, membaca Al-Fatihah, melakukan setiap gerakan dengan tumakninah, dan berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
