Doa iftitah adalah bacaan pembuka yang dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca taawuz serta Surah Al-Fatihah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa bacaan iftitah yang berbeda. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa seorang muslim boleh membaca salah satunya dan sesekali menggantinya dengan bacaan lain agar dapat mengamalkan beragam sunah Nabi ﷺ.
Doa-doa berikut tidak perlu digabungkan dalam satu salat. Cukup pilih satu bacaan.
1. Doa Memohon Dijauhkan dan Dibersihkan dari Dosa
Doa ini termasuk bacaan iftitah yang paling kuat dalilnya karena diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari.
Allaahumma baa‘id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa‘adta bainal-masyriqi wal-maghrib. Allaahumma naqqinii min khathaayaaya kamaa yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas. Allaahummaghsil khathaayaaya bil-maa’i wats-tsalji wal-barad.
Artinya
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, basuhlah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.”
Dalil
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai bacaan yang beliau ucapkan dalam jeda antara takbiratul ihram dan pembacaan Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ kemudian menyebutkan doa tersebut. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 744.
Kandungan Doa
Doa ini berisi tiga permohonan:
Memohon agar dijauhkan dari dosa.
Memohon agar hati dan diri dibersihkan dari dosa.
Memohon agar seluruh kesalahan dihapuskan dengan sempurna.
Doa ini dapat dibaca dalam salat fardu maupun salat sunah.
2. Doa “Allaahu Akbar Kabiiran”
Bacaan ini singkat sehingga mudah dihafalkan.
Allaahu akbaru kabiiraa, walhamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa.
Artinya
“Allah Mahabesar dengan segala kebesaran. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.”
Dalil
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa seorang sahabat membaca kalimat tersebut ketika salat bersama Rasulullah ﷺ. Setelah salat, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau kagum terhadap bacaan itu karena pintu-pintu langit telah dibukakan untuknya.
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim nomor 601.
Catatan
Bacaan ini pada awalnya diucapkan oleh seorang sahabat, kemudian dibenarkan dan dipuji oleh Rasulullah ﷺ. Dalam ilmu hadis, persetujuan Nabi ﷺ terhadap suatu amalan disebut sunah taqririyah.
3. Doa “Alhamdulillaahi Hamdan Katsiiran”
Bacaan ini juga pendek dan mudah dihafalkan.
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
Alhamdu lillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.
Artinya
“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan.”
Dalil
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seorang laki-laki memasuki saf salat dalam keadaan terengah-engah, kemudian mengucapkan bacaan tersebut.
Setelah selesai salat, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau melihat dua belas malaikat berlomba untuk mengangkat bacaan itu kepada Allah.
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim nomor 600, pada bab bacaan antara takbiratul ihram dan pembacaan Al-Qur’an.
Catatan
Bacaan ini sangat singkat. Karena itu, bacaan tersebut dapat menjadi pilihan bagi orang yang baru belajar salat atau belum mampu menghafalkan doa iftitah yang panjang.
4. Doa “Wajjahtu Wajhiya”
Bacaan ini mengandung penegasan tauhid, penyerahan diri, pengakuan dosa, permohonan ampun, dan permohonan agar diberi akhlak yang baik.
Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas-samaawaati wal-ardha haniifan wa maa ana minal-musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil-‘aalamiin. Laa syariika lahu, wa bidzaalika umirtu wa ana minal-muslimiin.
Allaahumma antal-maliku laa ilaaha illaa anta. Anta rabbii wa ana ‘abduka. Zhalamtu nafsii wa‘taraftu bidzambii, faghfir lii dzunuubii jamii‘an. Innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta.
Wahdinii li-ahsanil-akhlaaqi, laa yahdii li-ahsanihaa illaa anta. Washrif ‘annii sayyi-ahaa, laa yashrifu ‘annii sayyi-ahaa illaa anta.
Labbaika wa sa‘daika, wal-khairu kulluhu fii yadaika, wasy-syarru laisa ilaika. Ana bika wa ilaika. Tabaarakta wa ta‘aalaita. Astaghfiruka wa atuubu ilaik.
Artinya
“Aku menghadapkan wajahku dengan lurus kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.
Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan itulah aku diperintahkan dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
Ya Allah, Engkaulah Raja. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku dan mengakui dosaku. Maka ampunilah seluruh dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.
Tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada akhlak terbaik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku selain Engkau.
Aku memenuhi panggilan-Mu dan menaati-Mu. Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu, sedangkan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu. Aku bergantung kepada-Mu dan akan kembali kepada-Mu. Mahaberkah dan Mahatinggi Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
Dalil
Doa ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dalam Sahih Muslim nomor 771a. Riwayat tersebut juga menjelaskan bacaan Nabi ﷺ ketika rukuk, iktidal, sujud, dan sebelum salam.
Catatan Penting
Di Indonesia, bagian awal bacaan ini sering dibaca sampai:
“Wa ana minal-muslimiin.”
Namun, riwayat Sahih Muslim memuat kelanjutannya berupa pengakuan dosa, permohonan ampun, dan permohonan akhlak yang baik.
Boleh membaca bacaan lengkap sebagaimana riwayatnya. Apabila memilih bacaan yang lebih pendek, seseorang dapat menggunakan doa iftitah lain yang memang diriwayatkan dalam bentuk pendek.
5. Doa Memohon Petunjuk dalam Perkara yang Diperselisihkan
Doa ini secara khusus diriwayatkan sebagai bacaan pembuka salat malam Rasulullah ﷺ.
Allaahumma rabba Jibraa’iila wa Miikaa’iila wa Israafiil. Faathiras-samaawaati wal-ardh. ‘Aalimal-ghaibi wasy-syahaadah. Anta tahkumu baina ‘ibaadika fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun. Ihdinii limakhtulifa fiihi minal-haqqi bi-idznik. Innaka tahdii man tasyaa’u ilaa shiraathim mustaqiim.
Artinya
“Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui perkara gaib dan yang tampak. Engkau memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Mu mengenai apa yang mereka perselisihkan.
Tunjukilah aku dengan izin-Mu kepada kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.”
Dalil
Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa ketika Rasulullah ﷺ bangun untuk mengerjakan salat malam, beliau membuka salatnya dengan doa tersebut.
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim nomor 770.
Kandungan Doa
Doa ini mengajarkan agar seorang muslim:
Memohon petunjuk hanya kepada Allah.
Tidak mengikuti perselisihan berdasarkan hawa nafsu.
Memohon agar ditunjukkan kepada pendapat yang benar.
Mengakui bahwa Allah mengetahui perkara yang terlihat maupun tersembunyi.
Karena konteks hadisnya adalah salat malam, doa ini sangat baik dibaca ketika salat Tahajud atau Qiyamulail.
6. Doa Iftitah Panjang untuk Salat Tahajud
Rasulullah ﷺ juga membaca doa pembuka berikut ketika bangun untuk mengerjakan salat Tahajud.
Allaahumma lakal-hamdu, anta qayyimus-samaawaati wal-ardhi wa man fiihinna. Wa lakal-hamdu, laka mulkus-samaawaati wal-ardhi wa man fiihinna. Wa lakal-hamdu, anta nuurus-samaawaati wal-ardh.
Wa lakal-hamdu, antal-haqqu, wa wa‘dukal-haqqu, wa liqaa’uka haqqun, wa qauluka haqqun, wal-jannatu haqqun, wan-naaru haqqun, wan-nabiyyuuna haqqun, wa Muhammadun shallallaahu ‘alaihi wa sallama haqqun, was-saa‘atu haqqun.
Allaahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khaashamtu, wa ilaika haakamtu. Faghfir lii maa qaddamtu wa maa akhkhartu, wa maa asrartu wa maa a‘lantu. Antal-muqaddimu wa antal-mu’akhkhiru, laa ilaaha illaa anta.
Artinya
“Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu. Engkaulah yang mengatur langit, bumi, dan seluruh yang berada di dalamnya. Segala puji hanya milik-Mu. Milik-Mulah kerajaan langit, bumi, dan seluruh yang berada di dalamnya. Segala puji hanya milik-Mu. Engkaulah cahaya langit dan bumi.
Segala puji hanya milik-Mu. Engkaulah Yang Mahabenar. Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu benar. Firman-Mu benar. Surga itu benar. Neraka itu benar. Para nabi itu benar. Muhammad ﷺ adalah benar dan hari Kiamat itu benar.
Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri. Kepada-Mu aku beriman. Kepada-Mu aku bertawakal. Kepada-Mu aku kembali. Dengan pertolongan-Mu aku menghadapi perselisihan dan kepada-Mu aku meminta keputusan.
Ampunilah dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Yang Mengakhirkan. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.”
Dalil
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ membaca doa tersebut ketika bangun untuk mengerjakan salat Tahajud.
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 1120.
Catatan
Doa ini cukup panjang dan secara jelas disebutkan dalam konteks salat Tahajud. Karena itu, doa ini lebih sesuai dibaca dalam salat malam ketika waktu salat lebih panjang dan tenang.
7. Doa “Subhaanakallaahumma”
Bacaan ini sangat dikenal dan banyak digunakan oleh umat Islam.
Subhaanakallaahumma wa bihamdika, wa tabaarakasmuka, wa ta‘aalaa jadduka, wa laa ilaaha ghairuk.
Artinya
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Mahaberkah nama-Mu, Mahatinggi keagungan-Mu, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.”
Dalil dan Status Hadis
Bacaan ini diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam Jami’ at-Tirmidzi nomor 243. Dalam rujukan tersebut, hadisnya dinilai hasan, bukan berada dalam tingkatan Sahih al-Bukhari atau Sahih Muslim. Imam at-Tirmidzi juga menjelaskan adanya pembicaraan mengenai kekuatan hafalan salah seorang perawinya.
Catatan Penting
Bacaan ini tetap diamalkan dan dipilih oleh banyak ulama. Namun, dalam penulisan artikel ilmiah atau edukasi, statusnya sebaiknya dijelaskan secara jujur:
Bacaan tersebut memiliki dasar riwayat.
Hadisnya dinilai hasan dalam rujukan yang disebutkan.
Derajat sanadnya tidak sekuat doa yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Doa Iftitah Mana yang Sebaiknya Dibaca?
Semua bacaan yang memiliki dasar dapat diamalkan sesuai konteksnya.
Untuk salat fardu, bacaan yang mudah dan kuat dalilnya antara lain:
Pilihan pertama
Allaahumma baa‘id bainii wa baina khathaayaaya...
Doa ini diriwayatkan langsung sebagai bacaan Rasulullah ﷺ antara takbiratul ihram dan pembacaan Al-Qur’an.
Pilihan kedua
Allaahu akbaru kabiiraa, walhamdu lillaahi katsiiraa...
Bacaan ini singkat dan dipuji oleh Rasulullah ﷺ.
Pilihan ketiga
Alhamdu lillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.
Bacaan ini paling singkat dan mudah dihafalkan.
Untuk salat Tahajud atau salat malam, seseorang dapat membaca:
Allaahumma rabba Jibraa’iila wa Miikaa’iila wa Israafiil...
Allaahumma lakal-hamdu anta qayyimus-samaawaati wal-ardh...
Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas-samaawaati wal-ardh...
Apakah Semua Doa Iftitah Dibaca Sekaligus?
Tidak perlu membaca seluruh doa iftitah dalam satu salat. Setiap riwayat merupakan pilihan bacaan yang dapat diamalkan secara bergantian.
Misalnya:
Hari ini membaca “Allaahumma baa‘id bainii”.
Pada salat berikutnya membaca “Allaahu akbaru kabiiraa”.
Ketika Tahajud membaca doa yang khusus diriwayatkan untuk salat malam.
Mengamalkan bacaan secara bergantian membantu seorang muslim mengenal lebih banyak sunah dan memahami kandungan setiap doa.
Kesimpulan
Doa iftitah memiliki beberapa bentuk yang diajarkan, diamalkan, atau disetujui oleh Rasulullah ﷺ. Sebagian berbentuk permohonan ampun, sebagian berupa pujian kepada Allah, sebagian berisi pengakuan tauhid, dan sebagian lainnya berupa permohonan petunjuk.
Bacaan-bacaan tersebut bukan untuk dipertentangkan. Seorang muslim dapat memilih salah satunya sesuai kemampuan dan jenis salat yang dikerjakan.
Bagi orang yang baru belajar, mulailah dengan bacaan yang pendek dan mudah dihafalkan. Setelah lancar, pelajari bacaan lain secara bertahap beserta maknanya agar salat menjadi lebih khusyuk dan tidak hanya sekadar menghafalkan lafaz.
