Setiap orang tua tentu menginginkan anak yang sopan, bertanggung jawab, dan memiliki akhlak yang baik. Namun, tidak sedikit perilaku anak yang dianggap "nakal" justru berawal dari pola asuh yang kurang tepat. Anak belajar dari apa yang mereka lihat, rasakan, dan alami setiap hari.
Berikut beberapa kesalahan orang tua mendidik anak yang dapat memengaruhi perilaku anak.
1. Membiarkan Anak Berbuat Salah Tanpa Teguran
Ketika anak mengganggu orang lain, merusak barang, memukul teman, atau berteriak di tempat umum, sebagian orang tua hanya diam atau malah menyuruh orang lain yang menegur.
Padahal, orang lain sering merasa sungkan menegur anak di hadapan orang tuanya. Akibatnya, anak menganggap perilakunya tidak bermasalah karena tidak mendapat koreksi dari orang yang paling dihormatinya, yaitu orang tua.
Orang tua perlu bersikap tegas dengan mengatakan bahwa perbuatannya salah. Tegas bukan berarti kasar, tetapi memberikan batasan yang jelas agar anak memahami mana perilaku yang dapat diterima dan mana yang tidak.
2. Tidak Menjadi Contoh yang Baik
Anak adalah peniru terbaik. Apa yang dilakukan orang tua akan lebih mudah ditiru daripada apa yang hanya diucapkan.
Misalnya, ketika anak melakukan kesalahan kepada orang lain, orang tua justru menyalahkan korban atau menyalahkan orang lain karena dianggap terlalu keras menegur anak. Sikap seperti ini dapat membuat anak merasa selalu dibela meskipun berbuat salah.
Sebaliknya, apabila anak melakukan kesalahan, orang tua dapat meminta maaf kepada pihak yang dirugikan di depan anak. Dengan begitu, anak belajar bahwa jika melakukan kesalahan, kita harus berani meminta maaf dan bertanggung jawab.
3. Hanya Melarang dengan Kata-Kata Tanpa Tindakan yang Konsisten
Sebagian orang tua hanya berkata, "Jangan", "Tidak boleh", atau "No, no, no", tetapi tidak memberikan tindak lanjut ketika anak tetap mengulanginya.
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Ada anak yang langsung memahami teguran lisan, namun ada juga yang memerlukan tindakan cepat seperti dihentikan secara langsung, dipindahkan dari situasi tersebut, atau diberi konsekuensi yang sesuai dengan usianya agar memahami bahwa perilaku tersebut tidak boleh dilakukan.
Yang terpenting adalah tindakan orang tua dilakukan dengan tenang, tidak melampiaskan emosi, dan bertujuan mendidik, bukan menyakiti.
4. Tidak Konsisten dalam Memberikan Aturan
Hari ini anak dilarang bermain gawai saat makan, besok malah dibiarkan. Hari ini anak dimarahi karena membuang sampah sembarangan, besok dianggap biasa.
Ketidakkonsistenan membuat anak bingung terhadap aturan. Anak akhirnya menganggap aturan bisa berubah sesuai suasana hati orang tua.
5. Selalu Menuruti Keinginan Anak
Karena tidak tega melihat anak menangis, orang tua akhirnya selalu mengabulkan semua permintaan.
Jika hal ini terus dilakukan, anak akan belajar bahwa menangis, marah, atau mengamuk adalah cara yang efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
6. Kurang Meluangkan Waktu Bersama Anak
Kesibukan bekerja sering membuat orang tua hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi kurang memberikan perhatian.
Padahal, anak membutuhkan komunikasi, pelukan, pujian, dan kebersamaan. Anak yang merasa kurang diperhatikan terkadang mencari perhatian dengan perilaku negatif.
7. Terlalu Sering Memberikan Gawai
Memberikan ponsel agar anak diam memang terasa praktis, tetapi jika berlebihan dapat mengurangi interaksi dengan keluarga, menghambat kemampuan bersosialisasi, dan membuat anak sulit mengendalikan emosi ketika gawainya diambil.
Penggunaan gawai sebaiknya dibatasi sesuai usia dan tetap didampingi orang tua.
8. Ayah dan Ibu Tidak Kompak
Anak akan memanfaatkan perbedaan aturan jika ayah dan ibu tidak memiliki kesepakatan dalam mendidik.
Misalnya, ibu melarang sesuatu, tetapi ayah langsung mengizinkan. Lama-kelamaan anak akan belajar mencari orang tua yang paling mudah dituruti.
9. Terlalu Banyak Mengkritik, Terlalu Sedikit Memuji
Anak yang setiap hari hanya mendengar omelan dapat kehilangan rasa percaya diri. Sebaliknya, ketika anak melakukan hal baik, berikan apresiasi agar ia termotivasi mengulang perilaku positif tersebut.
10. Tidak Mengajarkan Tanggung Jawab
Kesalahan anak selalu dibersihkan orang tua, PR selalu dikerjakan orang tua, dan setiap masalah selalu diselesaikan oleh orang tua.
Akibatnya, anak tidak belajar menerima konsekuensi dari tindakannya dan kurang memiliki rasa tanggung jawab.
Cara Mendidik Anak dengan Baik
Beberapa prinsip yang dapat diterapkan orang tua antara lain:
Menjadi teladan dalam ucapan dan perbuatan.
Memberikan aturan yang jelas dan konsisten.
Menegur perilaku yang salah dengan tenang dan tegas.
Mengajarkan anak meminta maaf dan bertanggung jawab.
Memberikan konsekuensi yang sesuai dengan usia ketika melanggar aturan.
Meluangkan waktu berkualitas bersama anak.
Memberikan pujian saat anak berperilaku baik.
Kesimpulan
Perilaku anak tidak terbentuk dalam semalam. Lingkungan keluarga, terutama pola asuh orang tua, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan karakter anak.
Mendidik anak bukan berarti selalu memanjakan atau selalu menghukum. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara kasih sayang, ketegasan, konsistensi, dan keteladanan. Dengan pola asuh yang tepat, anak akan lebih mudah memahami aturan, menghormati orang lain, dan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
