Beragama Tapi Suka Mencari Kesalahan Orang Lain

Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.

Di tengah masyarakat yang semakin religius secara simbolik, muncul fenomena yang cukup memprihatinkan: semakin rajin beragama, tetapi semakin gemar mencari kesalahan orang lain. Hal-hal yang sejatinya sepele dan bisa disikapi dengan lapang dada justru dibesar-besarkan, diperdebatkan, bahkan dijadikan alat untuk menghakimi.

Ironisnya, perilaku ini sering dilakukan atas nama agama, seolah-olah kesempurnaan iman diukur dari seberapa tajam seseorang mengkritik orang lain.


Agama yang Seharusnya Memudahkan, Bukan Mempersulit

Islam secara tegas menegaskan bahwa agama tidak diturunkan untuk memberatkan manusia.

Dalil Al-Qur’an:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

“Dia (Allah) tidak menjadikan untuk kalian dalam agama ini suatu kesempitan.”
(QS. Al-Hajj: 78)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan olehnya.”
(HR. Bukhari no. 39)

➡️ Dalil ini menegaskan bahwa sikap gemar mempersulit perkara sepele justru bertentangan dengan ruh agama itu sendiri.


Peringatan Keras terhadap Sikap Merasa Paling Benar

Merasa diri paling suci dan paling benar adalah penyakit hati yang berbahaya.

Dalil Al-Qur’an:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika seseorang berkata: ‘Manusia binasa’, maka dialah yang paling binasa di antara mereka.”
(HR. Muslim no. 2623)

➡️ Artinya, orang yang sibuk menilai rusaknya orang lain sering kali tidak sadar bahwa ia sedang merusak dirinya sendiri.


Larangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain

Islam melarang keras sikap tajassus (mencari-cari aib).

Dalil Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing satu sama lain.”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Hadits Nabi ﷺ:

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya tetapi iman belum masuk ke hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin dan jangan mencari-cari aib mereka. Barang siapa mencari aib saudaranya, Allah akan membuka aibnya walaupun di dalam rumahnya.”
(HR. Abu Dawud no. 4880 – hasan)

➡️ Sikap gemar mengoreksi dan membongkar kesalahan orang lain bukan tanda ketakwaan, tapi peringatan keras dari Allah dan Rasul-Nya.


Kesalahan karena Tidak Tahu Bukan Alasan Menghakimi

Islam membedakan antara kesengajaan dan ketidaktahuan.

Dalil Al-Qur’an:

“Dan tidak ada dosa atas kalian terhadap kesalahan yang kalian lakukan tanpa sengaja, tetapi (dosa) atas apa yang disengaja oleh hati kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 5)

➡️ Maka, kesalahan orang awam yang lahir dari ketidaktahuan seharusnya disikapi dengan ilmu dan kelembutan, bukan cacian.


Akhlak Lebih Utama daripada Debat dan Caci Maki

Tujuan utama agama adalah menyempurnakan akhlak.

Hadits Nabi ﷺ:

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad no. 8952 – shahih)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi no. 1162 – hasan shahih)

➡️ Bukan yang paling galak, paling nyinyir, atau paling rajin menyalahkan.


Penutup dengan Dalil yang Menguatkan

Allah mengingatkan agar manusia fokus pada perbaikan diri:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR. Tirmidzi no. 2318 – hasan)


Kesimpulan

Dalil-dalil ini menegaskan bahwa:

  • Agama bukan alat menghakimi

  • Kesalehan bukan diukur dari tajamnya kritik

  • Kedewasaan beragama tampak dari akhlak, bukan dari ributnya perdebatan

Mau donasi lewat mana?

BRI - Saifullah (05680-10003-81533)

BCA Blu - Saifullah (007847464643)

Mandiri - Saifullah (1460019181044)

BSI - Saifullah (0721-5491-550)
Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan memberikan DONASI. Tekan tombol merah.

Penulis

Saifullah.id
PT Saifullah Digital Advantec

Posting Komentar

Tulis komentar anda di bawah ini, lalu centang Beri Tahu Saya agar mendapatkan notifikasi saat kami membalas, lalu tekan PUBLIKASIKAN