Perdebatan mengenai anak boleh atau tidak boleh menonton televisi, YouTube, atau menggunakan gadget memang masih sering terjadi. Sebagian orang tua memilih melarang anak menonton sama sekali, sementara sebagian lainnya masih memberikan waktu menonton dengan batasan tertentu.
Terlepas dari perdebatan tersebut, ada satu hal yang tidak kalah penting: jika anak memang diberikan waktu menonton, orang tua sebaiknya tidak membiarkan anak memilih tontonan secara sembarangan.
Daripada anak menonton video yang tidak jelas isi dan manfaatnya, lebih baik orang tua mengarahkan mereka kepada kartun edukasi untuk anak yang sesuai usia.
Dua tontonan yang menurut kami menarik untuk dipertimbangkan adalah Bebefinn dan LiaChaCha.
Menonton Tidak Harus Sekadar Hiburan
Tontonan anak sebenarnya dapat memiliki nilai lebih dari sekadar membuat anak diam atau terhibur.
American Academy of Pediatrics (AAP) melalui HealthyChildren menjelaskan bahwa media berkualitas dapat membantu memperkenalkan kata-kata baru, mengenalkan huruf dan angka, mencontohkan perilaku seperti bekerja sama dan menghormati orang lain, serta mendorong anak untuk bernyanyi, bergerak, dan merespons apa yang dilihatnya. Namun, manfaat tersebut tetap perlu diseimbangkan dengan aktivitas di dunia nyata. (HealthyChildren.org)
Karena itu, persoalannya bukan hanya:
“Boleh atau tidak anak menonton?”
Tetapi juga:
“Apa yang ditonton anak, berapa lama, dan apakah orang tua mendampinginya?”
1. Bebefinn
Bebefinn merupakan salah satu tontonan anak yang banyak menggunakan lagu, animasi, cerita sederhana, dan aktivitas sehari-hari sebagai media pembelajaran.
Channel Bebefinn Bahasa Indonesia memiliki berbagai video yang mengenalkan materi sederhana seperti angka, alfabet, huruf vokal, warna, konsep besar-kecil dan panjang-pendek, hingga kebiasaan sehari-hari. (YouTube)
Ada pula konten tentang kebiasaan sehat dan aktivitas sehari-hari sehingga anak tidak hanya melihat karakter bernyanyi, tetapi juga diperkenalkan dengan berbagai situasi yang dekat dengan kehidupan mereka. (YouTube)
Penggunaan lagu dan pengulangan juga membuat beberapa kata atau konsep lebih mudah diingat oleh anak.
Namun tentu saja, Bebefinn tetaplah media pendukung, bukan pengganti interaksi langsung dengan orang tua maupun proses belajar melalui permainan nyata.
Setelah anak menonton video tentang warna, misalnya, orang tua bisa melanjutkannya dengan bertanya:
“Mana benda yang warnanya merah?”
Atau setelah menonton tentang angka:
“Ayo kita hitung mainannya bersama.”
Dengan begitu, apa yang dilihat di layar dilanjutkan menjadi pengalaman belajar di dunia nyata.
2. LiaChaCha
Pilihan berikutnya adalah LiaChaCha.
LiaChaCha menghadirkan cerita, permainan imajinatif, lagu, serta berbagai aktivitas yang ditujukan terutama untuk balita dan anak prasekolah. Channel resminya menggambarkan kontennya sebagai kombinasi pretend play, cerita imajinatif, dan permainan belajar. (YouTube)
Beberapa videonya mengangkat tema seperti belajar berbagi, mengenal warna, kebiasaan mandi, keselamatan anak, kebiasaan sebelum tidur, dan berbagai kegiatan sederhana lainnya. (YouTube)
Tema-tema seperti ini cukup dekat dengan kehidupan anak sehari-hari sehingga dapat dimanfaatkan orang tua untuk membuka percakapan setelah menonton.
Misalnya setelah menonton tentang berbagi, orang tua dapat bertanya:
“Kalau teman mau pinjam mainan, sebaiknya bagaimana?”
Dengan cara tersebut, menonton tidak berhenti sebagai hiburan pasif.
Daripada Membiarkan Anak Menonton Sembarangan
Internet menyediakan jutaan video dan tidak semuanya dibuat dengan mempertimbangkan perkembangan anak.
Karena itu, jika orang tua memang memutuskan memberikan screen time, memilih sendiri tontonan anak jauh lebih baik daripada membiarkan algoritma menentukan video berikutnya secara terus-menerus.
AAP juga menyarankan orang tua memilih konten berkualitas, mematikan fitur autoplay bila memungkinkan, membuat area atau waktu tertentu bebas layar, serta memperhatikan agar penggunaan media tidak mengambil waktu untuk tidur, bermain, belajar, dan berinteraksi dengan keluarga. (HealthyChildren.org)
Jadi, daripada memberikan HP kemudian membiarkan anak melakukan scroll atau menonton apa saja, orang tua dapat menyiapkan beberapa tontonan yang sudah diperiksa sebelumnya.
Bebefinn dan LiaChaCha bisa menjadi dua di antaranya.
Tetap Ada Batas Waktu
Menyebut suatu tontonan memiliki nilai edukasi bukan berarti anak boleh menontonnya tanpa batas.
Aktivitas fisik, berbicara dengan orang tua, bermain bersama teman, membaca buku, menggambar, menyusun balok, bermain di luar rumah, dan mengeksplorasi lingkungan tetap memiliki peran yang sangat penting.
WHO, misalnya, merekomendasikan tidak memberikan sedentary screen time kepada anak usia 1 tahun. Untuk anak usia 2 tahun serta usia 3–4 tahun, waktu layar sedentari direkomendasikan tidak lebih dari satu jam sehari dan lebih sedikit dianggap lebih baik. (World Health Organization)
Karena itu, kartun edukasi sebaiknya diperlakukan sebagai salah satu media belajar, bukan aktivitas utama sepanjang hari.
Orang Tua Sebaiknya Ikut Mendampingi
Salah satu cara membuat tontonan menjadi lebih bermanfaat adalah menonton bersama anak.
Tidak harus menemani dari awal sampai akhir setiap saat. Namun sesekali orang tua dapat ikut melihat, bertanya, bernyanyi bersama, atau menghubungkan apa yang ada di video dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini dikenal sebagai co-viewing. AAP menilai menonton bersama memberikan kesempatan kepada orang tua untuk membantu anak memahami apa yang dilihat dan menghubungkannya dengan pengalaman di dunia nyata. (HealthyChildren.org)
Contohnya:
Saat muncul angka, ajak anak menghitung.
Saat muncul warna, cari benda dengan warna yang sama.
Saat karakter meminta maaf, jelaskan kapan kita harus meminta maaf.
Saat ada lagu gerakan, ajak anak berdiri dan mengikuti gerakannya.
Setelah video selesai, tanyakan kembali apa yang baru saja dilihat.
Dengan demikian, anak tidak hanya menonton, tetapi juga berbicara, mengingat, bergerak, dan berpikir.
Kesimpulan
Tidak semua orang tua memiliki pandangan yang sama mengenai anak dan screen time. Ada yang memilih sangat membatasi, ada pula yang memberikan waktu menonton dalam durasi tertentu.
Yang penting, ketika anak diberikan kesempatan menonton, jangan sampai mereka dibiarkan mengonsumsi konten sembarangan tanpa pengawasan.
Bebefinn dan LiaChaCha dapat menjadi pilihan kartun edukasi untuk anak karena keduanya memiliki berbagai konten mengenai angka, huruf, warna, kebiasaan sehari-hari, perilaku sosial, keselamatan, serta berbagai pengetahuan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak. (YouTube)
Tetap batasi waktunya, pilih episode yang sesuai usia, dan sebisa mungkin dampingi anak.
Sebab pada akhirnya, tontonan terbaik sekalipun tidak dapat menggantikan peran orang tua, bermain secara langsung, membaca, bergerak, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Tetapi jika anak memang akan menonton, lebih baik diarahkan kepada tontonan yang memiliki nilai edukasi daripada dibiarkan menonton sembarang konten.
