Di era digital, gadget sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan sejak usia sangat dini, banyak anak sudah terbiasa menonton video, bermain gim, atau menggunakan ponsel dan tablet sebagai hiburan. Bagi orang tua, gadget memang dapat menjadi sarana yang praktis untuk membuat anak tenang, belajar, atau mengisi waktu.
Namun, penggunaan gadget pada anak tetap perlu mendapat perhatian serius. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan layar yang terlalu lama, terlalu dini, tanpa pendampingan, atau sampai menggantikan waktu bermain, tidur, berkomunikasi, dan berinteraksi secara langsung dapat berkaitan dengan berbagai masalah perkembangan.
Karena itu, pertanyaan yang penting bukan sekadar, “Bolehkah anak bermain gadget?”, tetapi juga berapa lama, untuk apa, bagaimana cara penggunaannya, dan aktivitas penting apa yang mungkin tergantikan oleh gadget tersebut? Memahami hasil penelitian dapat membantu orang tua membuat aturan penggunaan gadget yang lebih aman dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Kalau ingin, saya juga bisa membuat versi intro yang lebih menarik untuk artikel website Bimbel Queen, lebih persuasif dan SEO-friendly.
Apa yang ditemukan penelitian?
Perkembangan bahasa dan kemampuan memecahkan masalah
Studi kohort besar di Jepang terhadap 7.097 pasangan ibu-anak menemukan adanya pola dose-response: semakin lama screen time pada usia 1 tahun, semakin tinggi kemungkinan keterlambatan komunikasi dan problem-solving pada usia berikutnya. Anak yang mendapat layar ≥4 jam/hari pada usia 1 tahun memiliki kemungkinan keterlambatan komunikasi pada usia 2 tahun sekitar 4,78 kali dibanding anak dengan screen time <1 jam/hari. Hubungan untuk komunikasi dan problem-solving masih terlihat pada usia 4 tahun. (JAMA Network)
Penelitian longitudinal lain terhadap 2.441 anak menemukan bahwa screen time yang lebih tinggi pada usia 24 dan 36 bulan berkaitan dengan skor tes perkembangan yang lebih rendah ketika anak berusia 36 dan 60 bulan. (JAMA Network)
Kemampuan bahasa secara khusus
Meta-analisis di JAMA Pediatrics menemukan bahwa jumlah penggunaan layar yang lebih tinggi secara umum berhubungan dengan kemampuan bahasa anak yang lebih rendah. Namun, hasilnya tidak berarti semua tayangan buruk: konten pendidikan dan penggunaan bersama orang tua dapat memberikan hasil yang lebih baik dibanding anak menonton sendirian. (JAMA Network)
Hal ini penting karena anak kecil belajar bahasa terutama melalui komunikasi dua arah: mendengar orang berbicara, menjawab, menunjuk benda, bermain, membaca buku, dan berinteraksi langsung.
Bukan hanya durasi — jenis penggunaan gadget sangat penting
Meta-analisis tahun 2024 yang mencakup 100 studi dan 176.742 anak usia di bawah 6 tahun menunjukkan bahwa konteks pemakaian layar sangat menentukan. Menonton bersama orang tua (co-use) berhubungan positif dengan kemampuan kognitif, sementara paparan TV yang terus menyala di latar belakang, konten yang tidak sesuai usia, serta penggunaan gadget oleh orang tua ketika sedang berinteraksi dengan anak berhubungan dengan hasil perkembangan yang lebih buruk. (DOI)
Jadi, 30 menit menonton video pendidikan sambil berdiskusi dengan orang tua tidak sama dengan 30 menit anak sendirian menggulir video pendek secara terus-menerus.
Tidur dapat terganggu
Kajian sistematis terhadap penelitian anak dan remaja menemukan bahwa penggunaan layar secara konsisten berhubungan dengan waktu tidur yang lebih pendek dan waktu tidur yang lebih terlambat. Dalam tinjauan terhadap 67 penelitian, sekitar 90% menemukan hubungan buruk antara penggunaan layar dan setidaknya satu aspek tidur. Namun, peneliti juga menekankan bahwa sebagian besar penelitian bersifat observasional sehingga hubungan sebab-akibat tidak selalu dapat dipastikan. (PubMed)
AAP terbaru juga menyatakan bahwa media digital dapat mengganggu durasi, waktu mulai, dan kualitas tidur. Karena itu, AAP menganjurkan menghindari layar sekitar 1 jam sebelum tidur dan tidak menaruh perangkat di kamar tidur anak. (American Academy of Pediatrics)
Regulasi emosi
Memberikan HP setiap kali anak menangis memang dapat menghentikan tangisan dengan cepat, tetapi ada kekhawatiran anak menjadi kurang mendapat kesempatan belajar menenangkan diri dengan cara lain.
Sebuah studi longitudinal pada anak usia 3–5 tahun menemukan bahwa semakin sering perangkat seluler digunakan untuk menenangkan anak, semakin kuat kaitannya dengan masalah regulasi emosi pada perkembangan selanjutnya, meskipun hubungannya dapat berlangsung dua arah—anak yang memang lebih reaktif juga mungkin lebih sering diberi gadget oleh orang tua. (PubMed)
AAP 2026 juga menyebut penggunaan perangkat sebagai alat utama untuk menenangkan anak prasekolah berhubungan dengan kemampuan regulasi emosi yang lebih lemah dan kebiasaan penggunaan media yang bermasalah. (American Academy of Pediatrics)
Aktivitas fisik dan risiko berat badan
Screen time yang panjang sering menggantikan aktivitas bergerak dan bermain. Beberapa meta-analisis menemukan hubungan antara screen time tinggi dan overweight/obesitas pada anak. Misalnya, meta-analisis tahun 2019 menemukan bahwa anak dengan screen time ≥2 jam/hari memiliki odds overweight/obesitas sekitar 1,67 kali dibanding kelompok <2 jam/hari. (PubMed)
Tetapi hubungan ini tidak sesederhana “HP menyebabkan kegemukan”. Meta-analisis uji acak tahun 2022 menemukan bahwa intervensi untuk mengurangi screen time berhasil mengurangi penggunaan layar, tetapi tidak menghasilkan penurunan BMI yang signifikan. (PubMed) Ini menunjukkan bahwa pola makan, aktivitas fisik, tidur, dan faktor keluarga juga sangat berpengaruh.
Rekomendasi untuk anak kecil
Pedoman WHO untuk anak di bawah 5 tahun menekankan keseimbangan antara aktivitas fisik, tidur, dan aktivitas sedentari. Untuk anak usia 1 tahun, sedentary screen time tidak direkomendasikan; usia 2 tahun maksimal sekitar 1 jam/hari dan lebih sedikit lebih baik; usia 3–4 tahun juga maksimal sekitar 1 jam/hari. (World Health Organization)
AAP memperbarui panduan medianya pada 2026. Pendekatannya kini tidak hanya menghitung menit layar, tetapi juga mempertimbangkan Child, Content, Calm, Crowding out, dan Communication. Untuk balita dan anak prasekolah, batas praktis dapat berada di bawah 1 jam per hari, sambil lebih memprioritaskan kualitas konten, pendampingan orang tua, tidur, bermain, membaca, aktivitas fisik, dan interaksi sosial. (American Academy of Pediatrics)
Kesimpulannya
Bahaya utama gadget pada anak sebenarnya sering berasal dari apa yang digantikan oleh gadget. Jika 2–4 jam sehari dihabiskan di depan layar, berarti waktu tersebut berpotensi mengambil jatah anak untuk berbicara dengan orang tua, bermain imajinatif, berlari, menggambar, memegang benda, membaca buku, bersosialisasi, dan tidur.
Sebaliknya, penggunaan singkat, konten sesuai usia, didampingi orang tua, serta tidak mengganggu tidur dan aktivitas nyata tidak dapat disamakan dengan penggunaan gadget berlebihan. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa konten pendidikan berkualitas dan penggunaan bersama orang tua dapat memberikan manfaat tertentu. (DOI)
Referensi utama:
Madigan S, Browne D, Racine N, et al. Association Between Screen Time and Children’s Performance on a Developmental Screening Test. JAMA Pediatrics. 2019;173(3):244–250. DOI: 10.1001/jamapediatrics.2018.5056. (JAMA Network)
Takahashi I, et al. Screen Time at Age 1 Year and Communication and Problem-Solving Developmental Delay at 2 and 4 Years. JAMA Pediatrics. 2023. (JAMA Network)
Madigan S, McArthur BA, Anhorn C, et al. Associations Between Screen Use and Child Language Skills: A Systematic Review and Meta-analysis. JAMA Pediatrics. 2020;174(7):665–675. DOI: 10.1001/jamapediatrics.2020.0327. (JAMA Network)
Mallawaarachchi SR, et al. Early Childhood Screen Use Contexts and Cognitive and Psychosocial Outcomes: A Systematic Review and Meta-analysis. JAMA Pediatrics. 2024;178(10):1017–1026. DOI: 10.1001/jamapediatrics.2024.2620. (DOI)
Radesky JS, et al. Longitudinal Associations Between Use of Mobile Devices for Calming and Emotional Reactivity and Executive Functioning in Children Aged 3 to 5 Years. JAMA Pediatrics. 2023. DOI: 10.1001/jamapediatrics.2022.4793. (PubMed)
World Health Organization. Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children Under 5 Years of Age. WHO; 2019. (World Health Organization)
Munzer T, et al. Digital Ecosystems, Children, and Adolescents: Policy Statement. Pediatrics. 2026;157(2):e2025075320. DOI: 10.1542/peds.2025-075320. (PubMed)
