Anak Sulit Fokus Saat Belajar? Ini 7 Cara Membantu Anak Tanpa Memaksa

Anak sulit fokus saat belajar? Simak 7 cara membantu anak lebih konsentrasi tanpa memaksa, lengkap dengan tips praktis dan referensi terpercaya.
Anak Sulit Fokus Saat Belajar? Ini 7 Cara Membantu Anak Tanpa Memaksa

Anak baru belajar beberapa menit, tetapi sudah mulai melihat ke sana-sini. Ada yang memainkan pensil, berjalan dari tempat duduk, meminta minum, atau mengatakan bahwa dirinya bosan.

Kondisi seperti ini sering membuat orang tua khawatir. Apalagi jika anak harus mengerjakan PR, belajar membaca, berhitung, atau mempersiapkan pelajaran sekolah.

Namun, anak yang sulit fokus tidak selalu berarti anak malas atau tidak pintar. Kemampuan untuk memusatkan perhatian, mengendalikan diri, mengingat instruksi, dan menyelesaikan tugas merupakan keterampilan yang berkembang secara bertahap.

Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa kemampuan seperti fokus, mengingat informasi, mengendalikan impuls, dan berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya merupakan bagian dari executive function atau fungsi eksekutif. Kemampuan ini berkembang melalui pengalaman, latihan, serta interaksi anak dengan orang dewasa.

Karena itu, daripada langsung memarahi anak ketika tidak fokus, orang tua dapat membantu menciptakan kondisi belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.


1. Buat Waktu Belajar Lebih Pendek

Orang tua terkadang berharap anak bisa duduk belajar dalam waktu lama seperti orang dewasa. Padahal, setiap anak memiliki kemampuan mempertahankan perhatian yang berbeda.

Daripada memaksa anak belajar terus-menerus dalam waktu panjang, orang tua dapat membagi kegiatan belajar menjadi beberapa bagian.

Contohnya:

Belajar 15–20 menit → istirahat sebentar → lanjut belajar kembali.

Untuk anak yang lebih kecil, waktu belajarnya bahkan dapat dibuat lebih singkat.

Saat istirahat, anak bisa berdiri, berjalan sebentar, minum, atau melakukan peregangan.

American Academy of Pediatrics juga menyarankan adanya jeda secara berkala ketika anak belajar untuk membantu mengurangi kelelahan selama mengerjakan tugas sekolah.

Hal yang paling penting bukan berapa lama anak duduk di depan buku, tetapi seberapa baik anak memahami apa yang sedang dipelajarinya.


2. Kurangi Gangguan Saat Anak Belajar

Televisi menyala, suara video dari ponsel, mainan berserakan, atau orang yang terus berbicara dapat membuat perhatian anak mudah teralihkan.

Cobalah menyediakan tempat belajar yang nyaman, cukup terang, dan memiliki gangguan seminimal mungkin.

American Academy of Pediatrics menyarankan anak mempunyai tempat belajar yang relatif konsisten, tenang, dan bebas dari berbagai gangguan. Televisi serta perangkat elektronik yang tidak dibutuhkan untuk belajar sebaiknya tidak digunakan selama waktu mengerjakan tugas.

Tidak harus mempunyai ruang belajar khusus.

Meja makan atau meja sederhana di sudut rumah juga dapat digunakan selama anak merasa nyaman dan kebutuhan belajarnya tersedia.

Siapkan pensil, penghapus, buku, dan perlengkapan lain sebelum belajar sehingga anak tidak perlu berkali-kali meninggalkan tempat duduk untuk mencarinya.


3. Jauhkan HP Jika Tidak Digunakan untuk Belajar

Ponsel merupakan salah satu sumber gangguan yang sangat mudah menarik perhatian.

Notifikasi, permainan, video pendek, dan media sosial dapat membuat anak ingin terus memeriksa layar.

Jika HP tidak dibutuhkan untuk mengerjakan tugas, sebaiknya letakkan terlebih dahulu di tempat lain.

American Academy of Pediatrics menyarankan keluarga mempertimbangkan area atau waktu bebas layar, termasuk ketika mengerjakan pekerjaan rumah. Mematikan notifikasi dan mengurangi perangkat yang aktif secara bersamaan juga dapat membantu mengurangi gangguan.

Namun, orang tua juga perlu memahami bahwa tidak semua penggunaan layar buruk.

Saat HP atau komputer memang digunakan untuk pembelajaran, yang perlu dikurangi adalah gangguan yang tidak berkaitan dengan kegiatan belajar, bukan sekadar melarang semua teknologi.


4. Jangan Langsung Memarahi Anak Ketika Salah

Ketika anak menjawab soal dengan salah, sebagian orang tua mungkin secara spontan mengatakan:

"Kok begitu saja tidak bisa?"

"Sudah berulang kali diajarkan."

"Kamu tadi dengar tidak?"

Ucapan seperti ini belum tentu membuat anak menjadi lebih paham. Sebaliknya, anak dapat merasa takut mencoba karena khawatir melakukan kesalahan.

Lebih baik bantu anak menemukan kesalahannya.

Misalnya:

"Coba kita baca soalnya sekali lagi."

"Bagian mana yang belum kamu mengerti?"

"Ayo kita kerjakan satu-satu."

Pendampingan yang mendukung penting dalam proses perkembangan perhatian dan kemampuan pengendalian diri anak. Sebuah penelitian terhadap orang tua dan anak usia 4–8 tahun juga menemukan bahwa interaksi orang tua-anak dapat ditingkatkan melalui pendekatan yang mengajarkan dukungan terhadap perkembangan perhatian dan fungsi eksekutif.

Anak perlu memahami bahwa salah merupakan bagian dari proses belajar.


5. Selipkan Belajar dengan Permainan

Belajar tidak selalu harus menggunakan buku dan pensil.

Terutama pada anak usia dini dan sekolah dasar, materi dapat disampaikan melalui permainan.

Contohnya:

  • Belajar berhitung menggunakan buah, kancing, atau balok.

  • Mengenal huruf menggunakan kartu huruf.

  • Belajar warna dengan mencari benda di sekitar rumah.

  • Belajar kosakata Bahasa Inggris menggunakan gambar.

  • Melatih membaca melalui kartu kata.

  • Menghafal dengan permainan tebak-tebakan.

  • Belajar penjumlahan menggunakan benda nyata.

Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa aktivitas bermain dapat membantu anak berlatih memusatkan perhatian, menggunakan memori kerja, serta mengembangkan kemampuan mengendalikan diri.

Karena itu, ketika anak mulai bosan dengan buku, bukan berarti kegiatan belajarnya harus berhenti. Cara belajarnya yang dapat diubah.


6. Pastikan Anak Cukup Tidur

Orang tua terkadang fokus pada tambahan jam belajar, tetapi melupakan kebutuhan tidur anak.

Padahal, tidur sangat penting bagi perhatian, ingatan, perilaku, dan kemampuan belajar.

American Academy of Sleep Medicine memberikan rekomendasi kebutuhan tidur berdasarkan usia, antara lain:

  • Usia 3–5 tahun: sekitar 10–13 jam per 24 jam, termasuk tidur siang.

  • Usia 6–12 tahun: sekitar 9–12 jam per 24 jam.

  • Usia 13–18 tahun: sekitar 8–10 jam per 24 jam.

Tidur yang cukup secara teratur dikaitkan dengan perhatian, perilaku, proses belajar, memori, dan pengaturan emosi yang lebih baik.

Jadi, jika anak terlihat mengantuk dan sangat sulit berkonsentrasi, jangan selalu menambah waktu belajar.

Mungkin anak justru membutuhkan istirahat.


7. Beri Kesempatan Anak Bergerak dan Bermain

Belajar memang penting. Tetapi aktivitas fisik juga penting bagi perkembangan anak.

Anak tidak harus menghabiskan seluruh waktunya setelah sekolah dengan duduk belajar.

Bermain di halaman, berlari, bersepeda, berjalan kaki, atau melakukan permainan aktif merupakan bagian penting dalam keseharian anak.

CDC menyebut aktivitas fisik pada anak memiliki berbagai manfaat, termasuk terhadap kesehatan otak serta perhatian dan memori. Untuk anak usia sekolah 6–17 tahun, pedoman aktivitas fisik merekomendasikan setidaknya sekitar 60 menit aktivitas fisik sedang hingga berat setiap hari.

Artinya, bermain dan bergerak bukan sekadar membuang waktu.

Aktivitas tersebut juga merupakan bagian dari tumbuh kembang anak.


Setiap Anak Memiliki Cara Belajar yang Berbeda

Ada anak yang cepat memahami pelajaran hanya dengan mendengarkan.

Ada yang perlu melihat gambar.

Ada yang harus berulang kali berlatih.

Ada pula yang lebih mudah memahami pelajaran ketika diberikan contoh menggunakan benda nyata.

Karena itu, sebaiknya jangan terlalu sering membandingkan kemampuan seorang anak dengan kakak, adik, teman sekolah, atau anak orang lain.

Fokuslah pada perkembangan anak itu sendiri.

Kemajuan kecil tetap merupakan kemajuan.

Anak yang hari ini baru mampu membaca beberapa kata dapat berkembang menjadi lebih lancar jika mendapatkan latihan yang konsisten dan pendampingan yang tepat.


Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan?

Sesekali sulit fokus merupakan hal yang dapat terjadi pada anak, terutama ketika sedang lelah, mengantuk, lapar, tidak tertarik dengan tugas, atau banyak gangguan di sekitarnya.

Namun, jika kesulitan memperhatikan terjadi terus-menerus, sangat mengganggu kegiatan belajar maupun aktivitas sehari-hari, atau orang tua dan guru sama-sama melihat adanya kesulitan yang cukup besar, sebaiknya masalah tersebut tidak hanya dianggap sebagai kemalasan.

Orang tua dapat berdiskusi dengan guru dan, jika diperlukan, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional perkembangan anak untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.


Kesimpulan

Membantu anak fokus belajar bukan berarti membuat anak duduk berjam-jam di depan buku.

Anak membutuhkan proses.

Orang tua dapat membantu dengan membuat waktu belajar yang teratur tetapi tidak berlebihan, mengurangi gangguan, memastikan anak cukup tidur, memberikan kesempatan bermain dan bergerak, serta mendampingi anak dengan sabar.

Yang tidak kalah penting, jangan menjadikan belajar sebagai sesuatu yang menakutkan bagi anak.

Ketika anak merasa aman untuk bertanya, mencoba, salah, kemudian mencoba kembali, proses belajar akan menjadi jauh lebih menyenangkan.

Di Bimbel Queen, proses belajar disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Pendampingan tidak hanya berorientasi pada menyelesaikan soal, tetapi juga membantu anak memahami materi secara bertahap dan membangun kebiasaan belajar yang lebih baik.


Referensi

  1. Center on the Developing Child at Harvard University. A Guide to Executive Function: What Is It, and How Is It Developed?

  2. Center on the Developing Child at Harvard University. Enhancing and Practicing Executive Function Skills with Children from Infancy to Adolescence.

  3. Center on the Developing Child at Harvard University. Brain-Building Through Play: Activities for Infants, Toddlers, and Children.

  4. American Academy of Pediatrics. Back-to-School Tips for Families. HealthyChildren.org.

  5. American Academy of Pediatrics. Developing Good Homework Habits. HealthyChildren.org.

  6. American Academy of Pediatrics. How to Make a Family Media Plan. HealthyChildren.org.

  7. American Academy of Sleep Medicine. Child Sleep Duration Health Advisory.

  8. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Health Benefits of Physical Activity for Children.

  9. Spruijt, A. M., Dekker, M. C., & Ziermans, T. B. Educating parents to improve parent-child interactions: Fostering the development of attentional control and executive functioning. British Journal of Educational Psychology.

Bimbel Queen Singkawang tidak hanya menyediakan informasi seputar bimbel, tetapi juga informasi umum seputar kehidupan sehari-hari yang bisa diakses melalui link: shaqueena.com 😊

Mau donasi lewat mana?

BRI - Saifullah (05680-10003-81533)

BCA Blu - Saifullah (007847464643)

Mandiri - Saifullah (1460019181044)

BSI - Saifullah (0721-5491-550)
Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan memberikan DONASI. Tekan tombol merah.

Penulis

Saifullah.id
PT Saifullah Digital Advantec

Posting Komentar

Tulis komentar anda di bawah ini, lalu centang Beri Tahu Saya agar mendapatkan notifikasi saat kami membalas, lalu tekan PUBLIKASIKAN