Ketika Orang Beragama Menyindir Orang yang Posting Kebahagiaan di Media Sosial

Fenomena orang beragama yang menyinggung orang lain karena posting kebahagiaan di media sosial. Simak dalil tentang syukur, larangan iri dengki, bahay
Ketika Orang Beragama Menyindir Orang yang Posting Kebahagiaan di Media Sosial

Di zaman sekarang, media sosial menjadi tempat banyak orang membagikan momen hidupnya. Ada yang membagikan kebahagiaan bersama keluarga, liburan, makan bersama, pencapaian anak, usaha yang berkembang, hadiah dari pasangan, atau sekadar momen sederhana yang membuat hati bahagia.

Namun, fenomena yang sering terjadi adalah sebagian orang langsung menilai negatif. Ada yang berkata, “Jangan pamer,” “Takut ‘ain,” “Tidak usah terlalu bahagia di media sosial,” bahkan ada yang menggunakan agama untuk menyindir orang lain.

Padahal, tidak semua orang yang memposting kebahagiaan sedang pamer. Bisa jadi ia sedang bersyukur. Bisa jadi ia sedang menyimpan kenangan. Bisa jadi ia hanya ingin berbagi kabar baik kepada keluarga dan teman-temannya.

Islam memang melarang riya, sombong, dan berlebihan. Tetapi Islam juga tidak mengajarkan kita untuk mudah menuduh hati orang lain. Karena niat seseorang tidak bisa langsung kita hakimi hanya dari satu postingan.


Menampakkan Nikmat Tidak Selalu Berarti Pamer

Allah berfirman:

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Artinya:
“Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah dengan bersyukur.” (QS. Ad-Duha ayat 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa menyebut nikmat Allah bukanlah sesuatu yang otomatis tercela. Menampakkan nikmat bisa menjadi bagian dari rasa syukur, selama tidak diniatkan untuk sombong, merendahkan orang lain, atau mencari pujian manusia.

Maka, ketika seseorang membagikan kebahagiaannya, jangan buru-buru menuduh ia pamer. Bisa jadi ia sedang menjalankan bentuk syukur kepada Allah. Yang perlu dijaga adalah niat orang yang memposting dan hati orang yang melihat.


Jangan Mudah Berprasangka Buruk

Allah juga mengingatkan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat ayat 12)

Ayat ini sangat penting dalam kehidupan media sosial. Sebab banyak masalah muncul bukan karena postingannya, tetapi karena prasangka orang yang melihatnya.

Melihat orang liburan, langsung dianggap pamer.
Melihat orang makan enak, langsung dianggap sombong.
Melihat orang bahagia dengan keluarga, langsung dianggap ingin dipuji.
Melihat orang mendapat rezeki, langsung dianggap tidak peka.

Padahal, bisa jadi semua tuduhan itu hanya prasangka. Jika tidak ada bukti yang jelas, lebih baik diam, berbaik sangka, atau mendoakan.


Jangan Sampai Nasihat Berubah Menjadi Hasad

Sebagian orang mungkin berkata, “Saya hanya mengingatkan.” Mengingatkan memang baik. Tetapi kita juga perlu jujur kepada diri sendiri: apakah teguran itu lahir dari kasih sayang, atau dari rasa tidak suka melihat orang lain bahagia?

Islam sangat keras memperingatkan bahaya hasad atau iri dengki.

Allah berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ

Artinya:
“Janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa ayat 32)

Ayat ini mengajarkan bahwa nikmat orang lain adalah bagian dari ketetapan Allah. Jika kita melihat orang lain mendapat kebahagiaan, jangan membenci nikmat itu. Mintalah kepada Allah agar kita juga diberi kebaikan, bukan berharap kebahagiaan orang lain hilang.


Bahaya Iri Dengki dalam Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Artinya:
“Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud no. 4903 dan Ibnu Majah no. 4210)

Hadits ini menjadi peringatan keras bahwa iri dengki bukan dosa kecil yang bisa dianggap biasa. Hasad bisa merusak amal, mengotori hati, dan membuat seseorang sulit bahagia melihat nikmat orang lain.

Orang yang hatinya dipenuhi hasad akan merasa panas ketika orang lain bahagia. Ia tidak senang melihat orang lain sukses, tidak suka melihat keluarga orang lain harmonis, dan tidak rela melihat orang lain menikmati nikmat Allah.

Padahal, nikmat orang lain tidak mengurangi jatah rezeki kita. Allah Maha Luas karunia-Nya.


Allah Memerintahkan Kita Berlindung dari Orang yang Dengki

Dalam surat Al-Falaq, Allah mengajarkan doa perlindungan:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

Artinya:
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq ayat 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa hasad bisa membawa dampak buruk. Dengki bukan hanya penyakit hati, tetapi juga bisa melahirkan ucapan buruk, komentar menyakitkan, fitnah, doa yang tidak baik, bahkan kebencian kepada sesama muslim.

Karena itu, ketika melihat postingan kebahagiaan orang lain, hati kita harus dilatih untuk berkata:

“Ya Allah, berkahilah dia.”

Bukan:

“Pamer sekali dia.”


Tentang ‘Ain: Benar Ada, Tapi Jangan Jadi Alasan untuk Mencela

Dalam Islam, ‘ain memang benar adanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعَيْنُ حَقٌّ

Artinya:
“‘Ain itu benar adanya.” (HR. Muslim no. 2188)

Namun, keyakinan tentang ‘ain jangan dijadikan alasan untuk mencela semua orang yang membagikan kebahagiaan. Jangan sampai dalil tentang ‘ain dipakai untuk menyindir, merendahkan, atau menakut-nakuti orang lain.

Solusi Islam bukan mencela orang yang bahagia, tetapi menjaga hati, menjaga niat, tidak berlebihan, dan membaca doa perlindungan.

Jika kita melihat sesuatu yang membuat kagum pada orang lain, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar mendoakan keberkahan.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang ia sukai, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya.” (HR. Ibnu Majah no. 3509)

Maka, ketika melihat anak orang lain lucu, keluarga orang lain bahagia, usaha orang lain maju, atau seseorang mendapat nikmat, ucapkan:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ

Allāhumma bārik lahū.

Artinya:
“Ya Allah, berkahilah dia.”

Jika untuk perempuan:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهَا

Allāhumma bārik lahā.

Artinya:
“Ya Allah, berkahilah dia.”

Doa ini jauh lebih baik daripada komentar sinis.


Doa Agar Terhindar dari ‘Ain

Untuk melindungi diri, keluarga, anak, dan nikmat yang Allah berikan, kita bisa membaca doa yang diajarkan Nabi ﷺ.

Rasulullah ﷺ pernah mendoakan perlindungan untuk Hasan dan Husain dengan doa:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

A‘ūdzu bikalimātillāhit-tāmmati min kulli syaithānin wa hāmmah, wa min kulli ‘ainin lāmmāh.

Artinya:
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa, dan dari setiap pandangan mata yang buruk.” (HR. Bukhari no. 3371)

Doa ini sangat baik dibaca untuk anak, keluarga, diri sendiri, dan orang-orang yang kita sayangi.

Selain itu, sebelum tidur kita juga dianjurkan membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca tiga surat tersebut, meniupkan ke kedua telapak tangan, lalu mengusapkannya ke tubuh beliau sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari no. 5017)


Jika Melihat Nikmat Sendiri, Ucapkan Masya Allah

Ketika melihat nikmat pada diri sendiri, keluarga, anak, rumah, kendaraan, usaha, atau rezeki yang Allah berikan, biasakan mengucapkan:

مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Mā syā Allāh, lā quwwata illā billāh.

Artinya:
“Sungguh, atas kehendak Allah semua ini terjadi. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” (QS. Al-Kahf ayat 39)

Kalimat ini mengingatkan kita bahwa semua nikmat datang dari Allah, bukan semata-mata karena kehebatan diri sendiri.


Adab Melihat Kebahagiaan Orang Lain di Media Sosial

Agar hati tetap bersih, ada beberapa adab yang bisa kita lakukan ketika melihat kebahagiaan orang lain di media sosial:

Pertama, berbaik sangka. Jangan langsung menuduh pamer, riya, atau sombong.

Kedua, doakan keberkahan. Ucapkan “Allahumma barik” agar nikmat itu menjadi berkah.

Ketiga, jangan membandingkan hidup. Setiap orang punya ujian masing-masing. Yang terlihat bahagia belum tentu hidupnya tanpa masalah.

Keempat, jangan menulis komentar yang menyakiti. Jika tidak mampu berkata baik, lebih baik diam.

Kelima, jaga diri dari hasad. Jika hati terasa panas melihat nikmat orang lain, segera istighfar dan minta kepada Allah agar hati dibersihkan.

Keenam, jika khawatir terhadap ‘ain, amalkan doa perlindungan, bukan mencela kebahagiaan orang lain.


Penutup

Agama seharusnya membuat hati kita lebih bersih, bukan lebih mudah menyindir. Dakwah seharusnya membuat lisan kita lebih lembut, bukan lebih tajam kepada sesama muslim.

Posting kebahagiaan tidak selalu berarti pamer. Bisa jadi itu bentuk syukur. Yang perlu dijaga adalah niat orang yang memposting dan hati orang yang melihat.

Jika melihat orang lain bahagia, jangan langsung menuduh. Jangan biarkan hasad menyamar menjadi nasihat. Jangan jadikan dalil ‘ain sebagai alat untuk mencela.

Lebih baik doakan:

“Ya Allah, berkahilah nikmatnya. Berikan juga kepada kami kebaikan yang halal, baik, dan penuh keberkahan.”

Karena hati yang bersih tidak akan sibuk memadamkan kebahagiaan orang lain. Hati yang bersih akan ikut senang melihat saudaranya mendapatkan nikmat dari Allah.

Bimbel Queen Singkawang tidak hanya menyediakan informasi seputar bimbel, tetapi juga informasi umum seputar kehidupan sehari-hari yang bisa diakses melalui link: shaqueena.com 😊

Mau donasi lewat mana?

BRI - Saifullah (05680-10003-81533)

BCA Blu - Saifullah (007847464643)

Mandiri - Saifullah (1460019181044)

BSI - Saifullah (0721-5491-550)
Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan memberikan DONASI. Tekan tombol merah.

Penulis

Saifullah.id
PT Saifullah Digital Advantec

Posting Komentar

Tulis komentar anda di bawah ini, lalu centang Beri Tahu Saya agar mendapatkan notifikasi saat kami membalas, lalu tekan PUBLIKASIKAN